Home > berpikir, Dear Diary > TERPAKSA TURUN KE JALAN

TERPAKSA TURUN KE JALAN

TERPAKSA TURUN KE JALAN

Hari ini aku terpaksa turun ke jalan

karena bangunan kesepahaman yang telah diikrarkan

mulai diputarbalikan dengan ucap dan tindak keangkuhan

aku, habis kesabaran …

Hari ini aku terpaksa turun  ke jalan

semata agar para penguasa negeri mengerti

semata agar para cendekia faham

bahwa

satu-satunya flag carrier telekomunikasi milik anak negeri

sedang dalam tahap bahaya !

Lihatlah Telkom telah dikoyak dan dikotak-kotak

karyawannya dibiarkan seperti kuli kontrak

Telkom telah ditodong dan dipotong-potong

lalu ditawarkan seperti goreng singkong !

edan tenan, …

Hari ini aku harus berteriak !

kesewenangan tidak boleh jadi panglima pengambil keputusan !

keserakahan tidak boleh jadi tiket jabatan !

kongkalikong tidak boleh dibiarkan menggonggong !

Aku bertaruh mengayuh peluh

mengajak saudara-saudaraku tetap teguh

tinggal kita satu-satunya penjaga harta negara

yang pernah kita bangun sampai pelosok nusantara

Ayoo !!!…

kita harus bergerak dan terus bergerak !

biarkan didih darah menyirami ubun-ubun

biarkan keringat dan airmata menjadi penawar dahaga

karena, jika sekali terlambat

menangis pun tidak ada gunanya…

Sekarang saatnya kita tunjukkan rasa cinta dan kebanggaan !

sekarang saatnya kita selamatkan perusahaan !

kita harus menjadi bagian sejarah

meskipun harus terluka dan berdarah !

Hari ini aku berduka, ….

kekonyolan dan kebodohan telah dipertontonkan

kemunafikan dan slintat-slintut menjadi komoditas

yang dikemas jadi proposal aksi korporasi

Aku tidak rela !

karena seribu seratus manusia bukan sejumlah angka

yang seenaknya bisa dihapus dan diapusi

kami adalah jiwa yang telah ikut serta berkarya

Aku tidak mau !

menjadi korban keputusan gila yang sia-sia

yang kelak Cuma sekedar tinggal cerita duka

seperti ribuan saudara yang tenggelam

direndam lumpur lapindo ….

Hari ini aku terpaksa turun ke jalan

biarlah matahari menjadi saksi

biarlah jalanan mencatat perjuangan

bahwa kita telah satu kata :

menjaga perusahaan dari kematian yang direncanakan…

.

SilangMonas, 30112011

anwar sutisna

.

Kebayang di tengah-tengah kerumunan rekan-rekan yang sedang menyuarakan pendapatnya dibacakan puisi ini, sayang saya ga bisa ikut. Semoga dikesempatan selanjutnya saya bisa ikut berjuang bersama rekan-rekan semua, ah tapi kalau bisa jangan ada kesempatan selanjutnya, dengan harapan aspirasi kita sudah bisa dimengerti, dipahami dan menjadi tujuan bersama untuk tetap Tolak Merger Flexi. Pokoke Flexi Tetep Telkom!!

*pak awenk saya ijin kopi puisinya, bagus🙂


Categories: berpikir, Dear Diary
  1. December 3, 2010 at 11:49 pm

    telkom ga ada yg “deket” apa pak BY ya,hehehe🙂

    • wulanekadalu
      December 6, 2010 at 9:55 am

      wah kalau itu kagak tau deh pak, harusnya sih “banyak”😀

  2. sukmadewi mega
    December 16, 2010 at 4:43 pm

    ulas kasus merger n kerugian negera nya gmn dungs bu. walopun “ical” seh mmg salah satu icon bahaya indonesia wkwkwk

    • wulanekadalu
      December 17, 2010 at 10:33 am

      kalau ulasan detailnya saya kurang berkompeten bu, takut salah ngomong, bisa dibaca dimedia-media😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: