Home > resensi > Bidadari-Bidadari Surga

Bidadari-Bidadari Surga

Epilogbbs2

Dengarkanlah kabar bahagia ini.

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah “terpilih” di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari-bidadari surga parasnya cantik luar biasa. (Tere- Liye, Bidadari-Bidadari Surga)


Akhirnya nemu novel ini di Gramedia tepatnya Gramedia Jalan Manyar, setelah aku searching di toko buku Togamas, biasa biar ada diskon kan lumayan 10-15-20 persen tapi ga ktemu, nitip temenku juga ga dapet juga.

Novel yang tebalnya 365 halaman ini bercerita tentang keluarga, dimana disitu ada 1 ibu, dan 5 orang anaknya. Anak pertama bernama Laisa, berturut-turut selanjutnya dari yang tertua adalah Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, Yashinta. Laisa adalah seorang perempuan yang sampe usia kepala empat belum juga menikah, sementara adik-adiknya juga “susah” untuk memutuskan menikah pada awalnya dengan alasan tidak mau melangkahi kak Laisa.. Kenapa meraka tidak mau melangkahi kak Laisa?? Itu karena mereka merasa kak Laisa adalah orang yang berjasa untuk hidup mereka, merubah nasib keluarga mereka. Kak Laisa adalah orang yang paling marah kalau melihat adik-adiknya sampai tidak sekolah, karena dia yakin dengan sekolah itu akan mengubah nasib mereka kelak. Dan benar saja semuanya berubah, walaupun itu tidak serta merta. Banyak masalah dan penyelesaian semua masalah, nah disini kita bisa liat bagaimana kak Laisa bisa menyelesaikan masalah-masalah itu sampai pada “akhirnya”.

Novel yang menyentuh, Tere-Liye memang pandai untuk membuat tulisan-tulisan yang sebenarnya sederhana saja, bahasanya biasa saya tapi menyentuh, sangat menyentuh. Novel ini juga diterbitkan oleh Republika sama seperti dua novel best tere-liye yang lain (Hafalan Sholat Delisa dan Moga Bunda Disayang Alloh). Buat yang udah punya bukunya tapi belum sempat baca, ayo dibaca dong!! Masak mau dicritain aja, ga seru tau😛

Categories: resensi
  1. Ferry
    November 20, 2008 at 7:05 pm

    baru baca yaaa dalu
    Aku dah lama punya loh.
    Ini novel yang bagus, inspiring. gaya penulisan khas tere. Mampu membuat pembaca larut didalamnya, seperti pada novel Hafalan Shalat Delisa.

    ga juga sih pak, tapi baru ditulis aja
    hmm,,, kira2 2bulan lalu lah aku baca,,
    soalnya kmrn2 masih dpinjem temen-temen
    klo ada buku-buku bagus kasih tau dong pak,,OK

  2. November 26, 2008 at 10:05 pm

    Iya bener banget..
    Dari dua novel tere yg aku baca (BBS dan HSD), ini yang paling bagus, gampang di cerna bahasanya. Ceritanya pun sangat inspiring banget.. Ga nyangka di dunia ini ada yang memiliki hati seperti kak laisa..

    ia pak,,tapi yang bikin aku nangis sampe rasanya abis air mataku ya HSD, soalnya Delisa tegar banget, menerima semuanya, ga suka mengeluh kayak aku😦

  3. f12man
    December 25, 2008 at 3:12 am

    awas “kelilipen” (tapi aneh malah ada yang bilang “so sweet”, siapa coba???)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: